Senin, 16 Januari 2012

Berita Tentang Konglomerat Irlandia Yang divonis Bangkrut oleh Pengadilan Irlandia


Apa jadinya bila konglomerat bangkrut...? Mungkin banyak diantara kita yang heran dengan kisah bangkrutnya konglomerat Irlandia. Konon dia sudah tidak bisa lagi melunasi hutang-hutangnya. Dan akhirnya pengadilan Irlandia pun memvonis bangkrut. Lebih lanjut simak artikel yang saya kutip dari vivanews.com berikut ini:

Konglomerat Irlandia Resmi Divonis Bangkrut
Sean Quinn didera utang sekitar Rp33,5 triliun. Uangnya kini hanya sekitar Rp127 juta

VIVAnews - Krisis keuangan di Eropa turut memakan korban di kalangan orang-orang kaya. Pernah berjuluk orang terkaya se-Irlandia, Sean Quinn kini dinyatakan bangkrut oleh pengadilan di Dublin.

Menurut kantor berita Reuters, situasi itu membuat Quinn sulit untuk kembali berkirprah di arena korporasi setidaknya selama lima tahun. Masalahnya, pria 65 tahun itu didera utang senilai 2,9 miliar euro atau US$3,7 miliar (Rp33,5 triliun). Bangkrutnya Quinn itu seiring dengan tengah memudarnya ekonomi Irlandia, yang dulu maju pesat sehingga berjuluk Macan Celtic.

Quinn pun dulu berhasil mengubah bisnis pertanian keluarga menjadi konglomerasi senilai 4 miliar euro. Namun, bisnisnya terguncang hebat, setelah dia meminjam banyak uang untuk berinvestasi dari Bank Anglo Irish, yang kini berganti nama jadi Irish Bank Resolution Corp. (IBRC).

Quinn gagal memenuhi kewajibannya sebagai pengutang. Dia bahkan bermasalah dengan pihak kreditur, yang menggugat dia di berbagai pengadilan, dari Belfast hingga British Virgin Islands.

"Kini bank telah mencapai tujuan mereka untuk memastikan bahwa saya tidak akan pernah menciptakan lahan pekerjaan lagi," kata Quinn dalam pernyataannya setelah dinyatakan bangkrut oleh Pengadilan Belfast Senin waktu setempat. "Posisi pembayar pajak Irlandia ini bisa saja menjadi lebih baik bila ditangani dengan pendekatan yang lebih logis atas masalah ini," lanjut Quinn.

Menurut undang-undang di Irlandia, seseorang yang dinyatakan bangkrut dilarang mendirikan atau mengelola suatu perusahaan selama antara lima hingga dua belas tahun. Setiap pendapatan yang diperoleh atau aset yang dikembangkan oleh pihak yang dinyatakan bangkrut selama periode itu harus diperuntukkan kepada pihak kreditur.

Aturan di Irlandia itulah yang membuat Quinn kini tidak bisa berbisnis setidaknya selama lima tahun. Sebenarnya Quinn berupaya agar kasusnya ini diproses di Irlandia Utara, yang hukumnya lebih longgar. Namun, upaya itu pekan lalu tidak diluluskan oleh pengadilan di Belfast, Irlandia Utara, setelah didesak oleh kreditur, yaitu IBRC.

Kalangan pengamat menilai vonis dari pengadilan itu membuat Quinn mati kutu. "Itu benar-benar membuat Quinn sulit berkiprah lagi untuk waktu yang lama," kata Mick Leydon, pengamat dari KavanaghFennell, spesialis di bidang pemulihan korporat.

Quinn pun sudah kehilangan kendali di banyak perusahaan, mulai dari pembuat semen hingga hotel di berbagai negara, seperti India, Swedia, dan Ukraina. IBRC pun berupaya menguasai aset-aset Quinn, yang untuk sementara disita oleh pengadilan Irlandia.

Ayah dari lima anak, Quinn sebelumnya selalu berkeliling Eropa dengan pesawat pribadi jenis Falcon. Kini dia mengaku sudah tidak punya apa-apa lagi selain uang 11.000 euro (sekitar Rp127 juta), sebuah mobil Mercedes tua dan tanah seluas 67 hektar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar