Kamis, 24 Mei 2012

Berita Unik : Rohut Sitompul Ketakutan Setelah Menghina Ormas Islam


“Saya tidak masuk mau apa. Ini rumah saya, mau apa kalian,” Poltak berteriak sekencang-kencangnya dengan nada menantang, tapi wajahnya ketakutan. Poltak sombong, menganggap Gedung DPR sebagai rumahnya, padahal di sana dia cuma wakil rakyat. Rakyat yang punya gedung itu. Lalu seorang staf sekretariat memberikan kode panggilan ke arah wartawan. Wartawan langsung berlarian ke arah Poltak. Sementara yang ditantang, Ustadz Bachtiar, tetap ‘kalem’ dan tenang.

“Saya mengatakan kebenaran, jangan anarkis, jangan anarkis,...” teriak Poltak sembari memanggil Pamdal DPR, "dek..dek..". Pamdal yang tak menduga bakal ada keributan segera berlari untuk mengamankan Poltak. Sementara ibu-ibu menghujani pertanyaan,”Yang anarkis siapa...yang anarkis siapa?” Tapi Poltak tak menjawabnya. Ia pun digiring keluar ruangan. Sembari digiring keluar, Poltak masih berteriak, “Saya tetap mengatakan kalian anarkis. Jangan anarkis...jangan anarkis,” teriaknya.

Lima Pamdal DPR akhirnya masuk ke ruangan mencoba melerai. Ruhut lalu dikawal keluar ruangan. Sementara itu, Alfian Tanjung dan Bachtiar ikut keluar ruangan dengan jalur pintu keluar yang berbeda.

"Urusan apa dia bilang kita anarkis. Kita kan sudah argumentatif dan deskriptif. Kita di sini adu gagasan dan aspirasi. Saya tersinggung. Itu ancaman, itu hidden represif," kata Alfian.

Ustadz Bachtiar tetap gentle. Dibuntutilah Poltak yang saat itu dikawal Pamdal DPR dari belakang. Rupanya Poltak ketakutan dan masuk ke ruangan sekretariat Komisi III. Dengan sedikit kecerdikan, Ustadz Bachtiar akhirnya bisa juga masuk ke ruangan itu.

“Saya kan diluar, saya gak dikasih masuk. Saya bilang ke orang sekretariat (komisi III), ‘Saya laki-laki, saya ngga bawa senjata, saya tinggalkan barang saya, kalau perlu kunci dari luar. Pak Ruhut ngga mau bicara. Oke yang bicara laki-laki dengan laki. Man to man. Setelah berhasil masuk terjadi dialog antara Ustadz bachtiar dengan Ruhut, namun sayangnya menurut Ustadz Bahctiar, Ruhut malah mencecarnya dengan teriakan dan kata-kata kasar yang tidak pantas diucapkan anggota dewan.

"Tapi, Saya tidak mau terpancing, saya tetap berbicara baik-baik, dan saya katakan kepadanya saya ingin mengajaknya kepada kebaikan bukan mau macam-macam," ungkapnya.

Selain itu, Ustad Bahctiar meminta Ruhut yang merasa tidak bersalah meminta maaf karena begitu mudahnya menyematkan stigma anarkis kepada ormas Islam yang datang.

"Dia diam, tak mau minta maaf," kata pemimpin Ar Rahman Qur’anic Learning Center itu.

"Bagi Saya dia sudah menghina Islam, saya mau dia minta maaf," tambah Ustadz Bachtiar.

Ustadz Bachtiar mengaku tidak takut siapa pun yang membekingi Poltak. Tujuannya baik, ingin mengajak Poltak agar menjadi orang baik. “Siapapun di belakangnya saya tidak peduli, saya tidak peduli karena di belakang saya Allah. Saya masuk ke ruangannya. Saya ingin mengajak anda menjadi orang baik, dengan berbicara baik. Rupanya dia tidak bisa menjadi orang baik,” katanya.

Hanya berdua saja di ruang sekretariat Komisi III, rupanya membuat Poltak sangat ketakutan. “Dia ketakutan. Ketika saya pepetin badannya, dia kelihatan ketakutan. Di dalam pun saya perlakukan hal yang sama, tapi tangan saya saya di belakang. Seandainya dia senggol duluan, saya banting duluan. Tadinya saya mau cek tenaganya berapa,” cerita Ustadz Bachtiar kepada sejumlah wartawan media Islam sambil berjalan meninggalkan Gedung DPR.

Sementara itu, kepada sejumlah media, Sekjen FUI KH Muhammad Al Khaththath mengatakan si Poltak harus mendapat hukuman dan tak layak menjadi anggota DPR. Ustadz Al Khaththath menyarankan agar ketua Dewan Pembina Partai Demokrat segera menarik Poltak dari DPR karena telah melakukan fitnah dan provokasi.

“Demokrat sudah terlalu banyak kena isu koruptor. Dia (Poltak) nambah-nambahi saja. Saya sarankan Pak SBY untuk mem-PAW (Pergantian Antarwaktu) saja. Ini orang bodoh tapi sok pinter,” kata ustadz Al Khaththath di depan sekretariat Komisi III.

http://arrahmah.com/read/2012/05/23/20403-fitnah-ormas-islam-diklarifikasi-ruhut-sitompul-ketakutan.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar