Sabtu, 02 Juni 2012

Orang Kaya Makin Banyak Pindah Kewarganegaraan....Mengapa ya?

Inilah akibatnya bila pajak untuk orang kaya dinaikkan tinggi. Akibatnya banyak orang kaya di suatu negara yang pindah warga negara untuk menghindari pajak dan juga mencari penghidupan yang lebih nyaman dan aman. Orang kaya negara mana saja yang melakukan hal tersebut...? Simak artikel detikfinance.com berikut ini: Jakarta - Kini makin banyak orang-orang kaya yang meninggalkan negara asalnya. Seperti orang kaya Prancis atau Amerika Serikat yang 'kabur' demi menghindari tingginya pajak, atau orang kaya Rusia dan China yang ingin lepas dari ketidakpastian politik. “Jumlah orang kaya yang tidak terikat pada satu negara tertentu mengalami peningkatan cukup tiba-tiba. Setelah resesi dan kejadian lainnya, mereka sadar ada yang perlu diperbaiki. Bagi orang kaya, ide pindah negara telah berubah dari sesuatu yang menarik atau eksotik menjadi sesuatu yang harus dan wajib mereka lakukan,” papar David Lesperance, pengacara yang spesialisasi merelokasi orang-orang kaya, seperti dikutip dari CNBC (30/5/2012). Jumlah orang Amerika yang ingin mengganti kewarganegaraannya melonjak hingga lebih dari 1.700 orang tahun lalu. Menurut data U.S Treasury yang dikumpulkan oleh Andrew Mitchel – pengacara pajak internasional, angka ini mengalami peningkatan 2 kali lipat dibanding pada 2009. Salah satu contoh konkrit yang paling terkenal adalah Eduardo 'Facebook' Saverin yang pindah ke Singapura dan akhirnya melepas kewarganegaraan AS-nya akhir tahun lalu. Di triwulan pertama 2012 saja, sudah ada 460 warga AS yang menanggalkan kewarganegaraannya. Sementara itu, orang-orang kaya Prancis memilih Swiss, Inggris dan Singapura sebagai tempat pelarian ideal. Orang kaya Prancis ingin kabur dari rencana Presiden Francois Hollande yang ingin membebankan pajak 75% bagi pendapatan di atas 1 juta euro. Swiss sudah menampung 5.455 orang dengan sistem forfait yang memungkinkan warga negara asing jadi imigran dengan perlakuan pajak khusus. Di akhir 2010, lebih dari 33% di antaranya adalah orang Prancis. Alasan lain mereka kabur dari kampung halamannya adalah meningkatnya kebencian terhadap orang kaya di Perancis. Sedangkan 'orang kaya baru' di negara tumbuh kembang seperti Rusia, China dan Brazil mencari tempat tinggal baru yang lebih baik untuk melindungi kekayaan atau keluarga mereka. Kombinasi lambannya pertumbuhan, ketidakpastian politik dan kondisi pasar yang berubah-ubah di negaranya, membuat 'orang-orang kaya baru' ini pindah ke Inggris atau Amerika Serikat. Jumlah orang kaya yang pindah ke London luar biasa banyak, sampai-sampai komentator lokal telah memberi mereka julukan “Londongrad”. Roman Abramovich, pemilik klub sepakbola Chelsea adalah orang Rusia terkaya di Inggris. Namun dia hanya satu dari 10 milyuner Rusia yang tinggal di Inggris. Diperkirakan kini ada 1.000 jutawan Rusia yang menghuni London. Pengacara dan agen properti London yang berurusan dengan orang-orang kaya Rusia mengatakan, klien mereka tertarik dengan stabilitas dan budaya santun London, juga kondisi yang relatif aman. Para pakar berpendapat, pasca pemilihan presiden tahun lalu yang berlangsung rusuh, orang kaya Rusia makin gelisah melihat stabilitas politik dan memikirkan kekayaannya. Jumlah jutawan dan milyuner China yang menyerbu Amerika Serikat berhasil memecahkan rekor baru. Lebih dari 2,000 warga negara China menjadi imigran di AS pada 2011 melalui program visa investor. Angka ini naik 2 kali lipat dibanding 2010. Progam tersebut memungkinkan warga negara asing dan anggota keluarganya mendapat izin tinggal permanen AS dengan menginvestasikan US$ 500.000 atau lebih. Dampak dari polas migrasi orang-orang kaya ini masih terus muncul. Beberapa ekonom dan sosiolog berpendapat, sikap orang kaya yang tidak memiliki keterikatan pada tanah kelahirannya ini bisa mengacak-acak struktur negara dan komunitas, karena mereka tidak terlibat erat dengan dewan amal, pekerja atau bisnis lokal. Fenomena ini juga bisa memicu persaingan ketat dalam penerapan kebijakan pajak. Seperti Singapura dan St. Kitts yang menawarkan pajak penghasilan dan tingkat capital-gain bersahabat untuk menarik orang-orang kaya. Ada juga yang bilang, orang-orang ini hanya mengikuti peraturan ekonomi sederhana. Uang akan bergerak ke tempat yang bisa memperlakukannya lebih baik. Teknologi telah memungkinkan orang-orang kaya menjalankan bisnis dan investasinya dari mana pun saja. Ketika pajak berperan penting dalam keputusan ekonomis, para pakar mengatakan kalau budaya, pendidikan dan iklim juga memiliki peranan. Beberapa orang kaya AS lebih memilih Inggris dan Swiss daripada negara besar lainnya di Eropa bukan karena semata-mata mencari negara dengan tingkat pajak terendah. “Bukan semata-mata hanya karena pajak. Mereka ingin pergi ke tempat dimana mereka bisa menjalani gaya hidup yang sama seperti dulu. Sambil menjalankan bisnis, menyekolahkan anak-anak, makan di restoran berkualitas dan menikmati budaya daerah tersebut. Sudah tidak zaman mereka pindah ke pulau kecil yang tidak ada banyak pilihan hiburan dan makanan,” kata Lesperance.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar